FORGIVE ME SOB
Sobat adalah teman yang selalu ada buat kita bagaimanapun keadaan kita. Dia yang selalu mengarahkan kita kepada kebaikan. Menenangkan kita saat kita marah, membantu kita saat kita susah, bergembira saat kita sukses, menarik dan mengajak kita bangkit ketika kita jatuh, menasihati kita saat kita lalai. Sobat menempati posisi strategis dalam diri kita.
Aku tentunya memiliki sobat-sobat yang seperti itu. Dulu sangat banyak, kurang lebih 13 orang tetapi seiring berjalannya waktu, kami pun hilang satu per satu hingga sekarang tinggal lima yang masih perlu belajar untuk menjadi sobat. Kita menjalin persahabatan ini sudah cukup lama, hampir dua tahun. Tak lupa kita melalui masa-masa susah, penuh perjuangan. masa-masa getir, kehilangan. Masa-masa senang, mendapat penghargaan. Masa-masa guyon, sampai ngakak kadang juga djayus. Masa-masa nakal saat kami kelas dua dulu. Masa-masa indah itu sulit dilupakan. Kita selalu terlibat konspirasi satu sama lain, saling menyukseskan strategi masing-masing demi tercapainya sebuah keinginan. Huh, sungguh mendebarkan.
Sobatku dengan bermacam-macam latarbelakang dan karakter menyempurnakan persahabatan kita. Tapi akhir-akhir ini aku merasa telah jauh dengan mereka. Mereka begitu berbedanya dengan yang dulu, atau ini hanya persepsiku saja. Jujur, aku memang banyak salah selama ini, salah dalam mengemban impian kita. Dan aku juga banyak gagal. Tapi aku gak ingin kalian menyimpulkan bahwa aku tidak belajar. Iya, aku memang tidak belajar selama ini. Pagi itu seperti biasa aku berangkat ke sekolah memasuki pintu gerbang SMA Negeri 11 Surabaya yang jelek. Aku melihat dua sobatku dan satu eks-sobatku berjalan memasuki pintu masuk. Salah satu dari mereka (yang cowok) melihatku dengan sinis dan melihat bagian kaki dan sepatuku. Ekspresinya seperti marah, marah sekali padaku. Wajahnya membuat moodku hari ini menjadi buruk. Lalu aku reflek melihat kakiku, ternyata kauskakiku memang sudah usang dan tak layak kupakai. Tapi bukan begini khan jika dia menegurku???
Dalam benakku, ah biarkan. Tapi aku jadi malu sendiri melihat perilakuku yang semakin hari semakin tak terkontrol dan semakin liar layaknya hewan tanpa berpikir. Mungkin ini yang sekarang ada di persepsinya kepadaku. Aku kesel, kesel sekali dengan sikapnya yang tertutup itu. Belum lagi saat di koridor SMA Negeri 11 Surabaya yang jelek, mau roboh, pendek lagi. Dia menatapku plus menatap sepatuku dengan penuh kesinisan. Argh, muak aku. Mungkin dia juga muak melohatku seperti ini. Dengan kauskaki yang tidak layak pakai. Tapi apa begini cara menegunya????
Satu lagi sobatku ... bukan hanya dia saja yang emberashed alias menyebalkan. Tetapi sobat-sobat yang lain juga sangat menyebalkan. Apakah ini sangsi moral yang ditujukan padaku????
Sobatku, aku minta maaf mungkin dari perilakuku ada yang menghambat kinerja kalian......
Sobatku, jika ini memnag hukuman untukku lantas bagaimana jika aku menjadi inverior???? Apa kalian akan bertanggung jawab untuk membangkitka aku??
Aku bingung, wahai sobat !!!!! Aku ragu dengan apa yang akan aku lakukan.........kepada kalian
Aku gak ingin hanya gara-gara kalian, cita-citaku berubah sehingga mengalami pergeseran idealisme
Aku akui kalian memang orang-orang dengan idealisme tinggi
Aku akui kalian memang betul-betul kualitas harapan zaman
Kalian lebih pintar dari aku
Kalian lebih ahli dari aku
Kalian lebih berpengalaman dengan segudang keberhasilan
Sedangkan aku gak pernah satupun kerjaku dapat acungan jempol
Kalian memang HEBAT dibanding aku
Aku bangga punya sobat kalian
Calon-calon birokrat Indonesia !!!!!
Calon-calon orang sukses
Aku bangga dengan kalian.................plis, keep moving !!! we need each other !!!
Currahee
















